Cara Turunnya Wahyu

0 78

Bismillahirrahmaanirrahiim. Setelah membahas tentang Pengertian wahyu dan pembagiannya kini penulis akan membahas tentang Cara Turunnya Wahyu.

Telah terjadi perbedaan antara para ulama tentang cara turunnya A-Quraan. Dalam hal ini para ulama mempunyai tiga macam pendapat :

  1. Al-Quran diturunkan ke langit dunia pada malam al-Qadar sekaligus, yakni lengkap dari awal hingga akhirnya. Kemudian dirurunkan ceara berangsur-angsur setelah itu dalam tempo waktu 20 tahun atau 25 tahun, berdasar pada perselisihan yang terjadi tentang berapa lama Nabi Muhammad SAW bermukim di makkah setelah beliau diangkat menjadi Rasul.
  2. Al-Quraan diturunkan ke langit dunia dalam dua puluh kali lailatul qodar dalam 20 tahun atau 23 tahun, atau 25 tahun. Pada tiap-tiap malam diturunkan ke langit dunia sekedar yang hendak diturunkan dalam tahun itu kepada Nabi Muhammad SAW dengan cara berangsur-angsur.
  3. Al-Quran permulaan diturunkannya ialah di malam al-Qadar . Kemudian diturunkan sesudah itu , dengan berangsur-angsur dalam berbagai waktu. Pendapat ini adalah pendapat Asy Syabi’ dan golongan ulama yang sependapat dengannya.

Pendapat pertama itulah pendapat yang sangat terkenal dalam kalangan masyarakat.  Banyak disebut dalam tafsir – tafsir yang tersebar dalam masyarakat umat yang memegang tauhid.

Mereka berpegang kepada riwayat At-Thabarani dari Ibu Abbas r.a yang ujarnya, bahwa diturunkannya Al-Quraan dalam malam lailatul qadar, dalam bulan Ramadhan ke langit dunia sekaligus. semuanya. Kemudian dari sana diturunkan secara berangsur-angsur ( sesuai keperluan yang dipandang Allah SWT) ke dunia. Isnad riwayat ini dapat dipakai , akan tetapi tidak kuat benar.

Dalam tafsir Al-Manar disebutkan, bahwa Al-Quran itu diturunkan sedikit-sedikit dalam tempo 21 tahun, dan permulaan turunnya dalam bulan Ramadhan dalam Lailatul Qadar ( malam yang diberkati) sebagai yang disebut dalam suatu ayat Al-Quran.

Para mufassir menyangka, bahwa ayat ini musykil keadaannya. Untuk mengurai kemuskilan itu mereka meriwatkan, bahwa dimaksud dengan “diturunkan di malam Lailatul qadar”ialah turunnya ke langit dunia. Sedang AL-Quraan sebelum itu termaktub di Lauh Mahfuzh di langit ke tujuh. Sesudah itu barulah diturunkan berangsur-angsur ke Nabi Muhammad SAW. Dan zhahir perkataan mereka itu memberi pengertian, bahwa Al-Quran diturunkan sekaligus dari LAuh Mahfuzh ke langit dunia saja.

Al Ustadzul Imam Sekh Muhammad Abduh berkata, bahwa riwayat-riwayat itu sama sekali tidak sah. Sebenarnya beberapa tambahan pendapat yang ditambahkan, dengan maksud untuk memuliakan Ramadhan.

Kita tidak memerlukan riwayat-riwayat itu, untuk memuliakan Ramadhan, cukup dengan Allah SWT menjadi bulan untuk berpuasa. Allah SWT tidak menerangkan , bahwa Al-Quran itu di turunkan sekaligus dalam bulan Ramadhan. Dan tidak pula menerangkan, bahwa Al-Quran diturunkan dari Lauh Mahfuz ke bumi ini.

MEnurut anggapan jumhur, lafazh-lafazh AL-Quran tertulis di lauh mahfuzh. Lalu dipindahkan dan diturunkan ke bumi.Dengan demikian, tidak ada lagi lafazh-lafazh Al-Quran di lauf mahfuzh.

Menurut pentahkikan Muhammad Abduh, yang dinukilkan bukanlah lafaz termaktub di sana. Hanya disalin, lalu diturunkan. Hal ini sama dengan orang menghafal isi Al-Quran. Isi Al-Quran tetap ada dalam Al-Quran. Yang disalin pun seperti yang tertulis di Al-Quran itu.

Cara malaikat menerima lafazh Al-Quran dan menurunkannya, diperselisihi juga oleh para ulama. Kata Ath Thibi : Boleh jadi “malak” yang menerima lafazh AL-Quran dan menurunkannya kepa Nabi Muhammad SAW, menerima dari Allah SWT dengan cara yang tertentu ( penerimaan kerohanian) atau “malak” itu menghafalnya dari lauh mahfuzh. Sesudah dihafal dari lauh mahfuzh,malakpun menurunkannya kedalam jiwa Nabi Muhammad SAW)

Para ulama berselisih pula tentang apakah tentang apakah yang diturunkan itu ?

  1. Pendapat pertama menetapkan, bahwa yang diturunkan itu lafazh dan makna. Jibril menghafal Al-Quran dan lauh mahfuzh lalu menurunkannya.
  2. Pendapat kedua menetapkan, bahwa jibril menurukan maksudnya saja. Rasulallah SAW mengetahui makna-makna itu, lalu menta’birkan dengan bahasa Arab.
  3. Pendapat ketiga menetapkan, bahwa jibril menerima makna, lau jibril menta’birkannya dengan bahasa Arab. Dan adapula faham, bahwa isi langit membaca Al-Quran dengan bahasa Arab. Lafazh jibril itulah yang diturunkan ke Nabi Muhammad SAW.

Wallahu’alam

Sumber : Buku ” Menelusuri Perkembangan Sejarah HUKUM dan SYARIAT Islam” ( Kalam Ilahi)

Category: RagamTags:
author
No Response

Leave a reply "Cara Turunnya Wahyu"