4 Hal Yang Membuat Kita Selalu Dikejar Rezeki

0 76

Mencari rezeki untuk bekal ibadah kepada Allah SWT. diwajibkan kepada setiap orang.  Tapi dalam prakteknya banyak orang yang merasa kepayahan dalam mencari rezeki. Tidak sedikit orang yang menghabiskan waktunya hanya untuk mencari rezeki-Nya. Bahkan tidak sedikit pula yang berani meninggalkan ibadah dikarenakan kesibukannya mencari rezeki. Sungguh disayangkan jika dalam praktek mencari rezeki , jadi lupa kepada tujuan utama penciptaan manusia, yaitu beribadah kepada-Nya. Banyak yang lupa kalau pemilik dan pengatur rezeki Dialah Allah Yang Maha Kaya lagi Maha Memberi.

Jika kita merasa payah dalam mencari rezeki, barangkali ada yang salah dalam caranya. Keluar dari aturan yang diberikan oleh Sang Pencipta. Untuk itu dalam artikel kali ini, penulis akan mengulas beberapa hal yang membuat kita selalu dikejar rezeki dan tidak merasakan kepayahan dalam mencarinya.

4 Hal Yang Membuat Kita Selalu Dikejar Rezeki

Bertakwa

TAKWA (taqwa) bukan kata atau istilah asing bagi kita. Apa pengertian takwa yang sebenarnya?

Pengertian Takwa Menurut Bahasa

Menurut bahasa, takwa berasal dari bahasa Arab yang berarti memelihara diri dari siksaan Allah SWT, yaitu dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya (Imtitsalu awamirillah wajtinabu nawahihi).

Takwa (taqwa) berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara, yakni menjaga diri agar selamat dunia dan akhirat.

Kata Waqa juga bermakna melindungi sesuatu, yakni melindunginya dari berbagai hal yang membahayakan dan merugikan.

Pengertian Takwa Menurut Istilah

Pengertian takwa menurut istilah kita dapatkan di banyak literatur, termasuk Al-Quran, Hadits, dan pendapat sahabat serta para ulama. Semua pengertian takwa itu mengarah pada satu konsep: yakni melaksanakan semua perintah Allah, menjauhi larangannya, dan menjaga diri agar terhindari dari api neraka atau murka Allah SWT.
Ibn Abbas mendefinisikan takwa sebagai “takut berbuat syirik kepada Allah dan selalu mengerjakan ketaatan kepada-Nya” (Tafsir Ibn Katsir).
Ketika Abu Dzarr Al-Ghifari meminta nasihat kepada baginda Rasulullah, maka pesan paling pertama dan utama yang beliau sampaikan kepada sahabatnya itu adalah takwa. Rasulullah Saw bersabda:
“Saya wasiatkan kepadamu, bertakwalah engkau kepada Allah karena takwa itu adalah pokok dari segala perkara.” (Tanbihul Ghofilin, Abi Laits As-Samarkindi).

Imam Qurthubi mengutip pendapat Abu Yazid al-Bustami, bahwa orang yang bertakwa itu adalah: “Orang yang apabila berkata, berkata karena Allah, dan apabila berbuat, berbuat dan beramal karena Allah.”

Abu Sulaiman Ad-Dardani menyebutkan: “Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang kecintaan terhadap hawa nafsunya dicabut dari hatinya oleh Allah.”

Ibn Qayyim al-Jauziyyah menegaskan, bahwa hakikat taqwa adalah taqwa hati, bukan takwa anggota badan.” (Al-Fawaid).

Pengertian Takwa Menurut Al-Quran dan Hadits

Pengertian takwa menurut sahabat Nabi Saw dan ulama di atas tentu saja merujuk pada Quran dan Hadits.

Al-Quran menyebutkan, takwa itu adalah beriman kepada hal gaib (Yang Mahagaib: Allah SWT), Hari Akhir, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, beriman pada kitab-kitab Allah, dengan menjadikan Al-Quran sebagai pedoman dalam menjalankan hidupnya (QS. Al-Baqarah:2-7).

Menurut hadits Nabi Saw, pengertian takwa berintikan pelaksanaan perintah Allah SWT atau kewajiban agama.
“Laksanakan segala apa yang diwajibkan Allah, niscaya kamu menjadi orang yang paling bertakwa”. (HR. Ath-Thabrani).

Orang bertakwa senantiasa meluangkan waktu untuk beribadah dalam pengertian ibadah mahdhoh –kewajiban utama seperti sholat dan  zakat, serta puasa Ramadhan dan haji bagi yang mampu.

Allah Azza Wajalla juga berfirman dala Hadits Qudsi): “Hai anak Adam, luangkan waktu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku menghindarkan kamu dari kemelaratan. Kalau tidak, Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan kerja dan Aku tidak menghindarkan kamu dari kemelaratan.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Wallahu a’lam bish-shawab.

Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikannya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki-Nya). Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq [65] : 2-3)

Tawakal

Pengertian Tawakal

Pengertian Tawakal adalah berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.

Kata Tawakal berasal dari Bahasa Arab (Arab: توكُل‎‎) atau tawakkul yang artinya mewakilkan atau menyerahkan.

Pengertian Tawakal Menurut Para Ahli

Berikut adalah definisi Tawakal Menurut Ulama Salaf :

Imam Ahmad bin Hambal

Tawakal menurut Imam Ahmad bin Hambal merupakan aktivias hati, artinya tawakal itu merupakan perbuatan yang dilakukan oleh hati, bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Dan tawakal juga bukan merupakan sebuah keilmuan dan pengetahuan. (Al-Jauzi/ Tahdzib Madarijis Salikin, tt : 337)

Imam Al-Ghazali

Menurut Imam Al-Ghazali definisi Tawakkal ialah menyandarkan kepada Allah swt tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepadaNya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tentram.

Abu Zakaria Ansari

Menurut pandangan Abu Zakaria Ansari tawakkal adalah keteguhan hati dalam menyerahkan urusan kepada orang lain.

Ibnu Qoyim al-Jauzi

Tawakal adalah amalan dan ubudiyah (baca; penghambaan) hati dengan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah, tsiqah terhadap-Nya, berlindung hanya kepada-Nya dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirinya, berdasarkan keyakinan bahwa Allah akan memberikannya segala ‘kecukupan’ bagi dirinya…, dengan tetap melaksanakan ‘sebab-sebab’ (baca ; faktor-faktor yang mengarakhkannya pada sesuatu yang dicarinya) serta usaha keras untuk dapat memperolehnya.”

(Al-Jauzi/ Arruh fi Kalam ala Arwahil Amwat wal Ahya’ bidalail minal Kitab was Sunnah, 1975 : 254)

Dalil Tentang Tawakal

Dasar hukum tentang tawakal terdapat dala Al-Qur’an dan Sunnah yakni pada :

Al-Qur’an (8 : 61)

وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Al-Qur’an (3 : 122) :

وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Dan hanya kepada Allahlah, hendaknya orang-orang mu’min bertawakal.”

Al-Qur’an (17:2)

وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلاَّ تَتَّخِذُوا مِنْ دُونِي ‎وَكِيلاً

Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku.

Al-Qur’an (3: 173)

وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”

HR. Tirmidzi

Rasulullah Bersabda :

عَنْ عَمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا (رواه الترمذي)

Dari Umar ra, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,’sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, pastilah Allah akan memberikan rizki kepada kalian sebagaimana Allah memberi rizki pada seekor burung. Pergi pagi hari dalam keadaan perut kosong, dan pulang sore hari dalam keadaan perut kenyang. (HR. Tirmidzi).

HR. Tirmidzi

Rasulullah Bersabda :
عَنْ أَنَسِ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ قَالَ اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ (رواه الترمذي)

Dari Anas bin Malik ra, ada seseorang berkata kepada Rasulullah SAW. ‘Wahai Rasulullah SAW, aku ikat kendaraanku lalu aku bertawakal, atau aku lepas ia dan aku bertawakal?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Ikatlah kendaraanmu lalu bertawakallah.” (HR. Tirmidzi).

Manfaat Tawakal Dalam Kehidupan

Jika kita memiliki sikap tawakal maka kita akan mendapatkan banyak manfaat diantaranya adalah :

  • Mempunyai keberanian dalam menghadapi berbagai masalah.
  • Mempunyai sifat optimis dan jiwa yang tangguh.
  • Dapat merasakan ketenangan dan ketentraman jiwa.
  • Selalu percaya terhadap ketentuan dan ketetapan Allah SWT.
  • Memiliki jiwa yang penuh rasa syukur.

Istighfar

Apa rahasia di balik istighfar sehingga Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak mengucapkannya?

Istighfar terasa seperti ucapan yang ringan, pendek dan mudah diucapkan. Namun, tahukah Anda bahwa ucapan ini mengandung kedalaman makna dan manfaat yang demikian besar?

“Makna dari ucapan astaghfirullah adalah thalabul maghfirah atau pengakuan dari dosa-dosa dan meyakini akan adanya ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ucap Ustadz H Tolhah Nuhin, Lc, mubaligh dari Pusat Studi Al-Manar, Jakarta Timur.

Dengan melafalkan ucapan ini, hakikatnya seorang hamba mengakui bahwa dirinya penuh dosa, baik kecil maupun besar, disadari atau tidak. Disertai keyakinan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Pengampun. Pengakuan ini, menurut Tholhah, yang membedakan seorang mukmin dan tidak. karena hanya orang muttaqin yang memiliki tabiat ini, disertai pemaknaan secara penuh dan mendalam.

Tidak Hanya Diucapkan Setelah Melakukan Dosa

Karena makna istighfar erat kaitannya dengan pengakuan dosa, sering kali muncul anggapan bahwa ucapan ini hanya dilafalkan saat seseorang sadar setelah melakukan dosa. Padahal di banyak riwayat disebutkan berbagai keutamaan membaca istighfar.

Salah satunya adalah cerita mengenai Hasan Al-Bashri yang di datangi seseorang yang mengeluhkan kondisi kekeringan akibat hujan yang tak kunjung turun. Jawab beliau, “Perbanyaklah istighfarkepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Lalu datang lagi orang yang mengadukan kemiskinan diri dan keluarganya, disusul seorang lelaki yang meminta solusi atas keinginannya memperoleh keturunan serta seseorang yang mengeluhkan kondisi tanah yang tidak menghasilkan panen yang baik. Untuk ketigannya, Hasan Al-Bashri menyampaikan nasihat yang sama yakni anjuran memperbanyak istighfar.

Beberapa sahabat Hasan Al-Bashri yang saat itu berada di sekitarnya terheran-heran dengan solusi yang diberikan sang ulama dan bertanya, “Mengapa engkau memberi nasihat yang sama untuk permasalahan yang berbeda-beda?” Hasan Al-Bashri menjawab, “Apakah kammu tidak membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bunyinya:

“Maka Aku katakan kepada mereka, mohonlah ampun (Istighfar) kepada Rabb-mu. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untuknya kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai,” (QS: Nuh: 71: 10-12)

Mendapat Jalan Keluar dari Segala Kesulitan

Dari riwayat tersebut, dapatkah disimpulkan bahwa istighfar menjadi salah satu cara untuk menemukan jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi manusia?

“Hal yang perlu diperhatikan, Istighfar ini harus menjadi tabiat keseharian kita. Dalam setiap kondisi, baik lapang maupun sempit. Dengan menjadikannya tabiat, hakikatnya seorang manusia senantiasa mengingat Allah dan memohon pertolongan kepada-Nya. Bagi hamba-hmba yang seperti ini, malaikat sudah terbiasa mendengar suaranya dan Allah menjanjikan kemudahan atau pertolongan dalam setiap kesulitan hidup,” urai Tholhah.

Hal ini berdasar hadits Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Kenalilah Allah saat kamu senang, niscaya Dia akan mengenalimu saat kammu sedang susah,” (HR. Ahmad, Hakim, dan Al-Baihaqi).

Artinya, prinsip bahwa istighfar bisa menjadi sarana untuk memohon pada Allah agar diberikan jalan keluar dari segala kesulitan, hanya berlaku bagi mereka yang telah menjadikannya kebiasaan. Sementara bagi mereka yang hanya mengingat Allah di saat-saat sempit dan susah saja, tidak dijanjikan keutamaan ini.

Hukum Membaca Istighfar

Hukum melafalkan istighfar, menurut Tolhah, bisa wajib, sunnah, makruh, bahkan haram. Wajib diucapkan saat seseorang menyadari bahwa dia telah berbuat dosa. Tentunya ucapan ini harus diikuti dengan komitmen untuk bertobat dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Istighfar hukumnya sunnah diucapkan dalam setiap suasana dan kondisi dengan alasan meneladani akhlak Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. “Rasul saja beristighfar minimal 70 kali sehari, di riwayat lain disebutkan 100 kali per hari. Padahal beliau maksum atau sudah dijamin Allah bersih dari dosa. Bagaimana kita yang setiap hari melakukan Dosa? Tentunya harus lebih banyak beristighfar,” ujar Tholhah.

Namun istighfar juga bersifat makruh ketika di lafalkan tanpa ada sanad dan Rasulullah tidak menganjurkannya. Seperti beristighfar saat berjalan di belakang jenazah ketika mengantarkannya ke liang lahat. Justru yang dianjurkan adlah beristighfar bagi mayit ketika shalat jenazah dan setelah pemakamannya.

Lalu beristighfar juga bisa menjadi haram jika dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana dalam QS: At-Taubah: 9: 113 yang melarang seorang mukmin beristighfar atau memohonkan ampunan untuk saudaranya yang kafir, walaupun orang tersebut merupakan kerabat dekat.

Keutamaan Membaca Istighfar

Beberapa keutamaan melafalkan istighfar, menurut Ustadz Tolhah Nuhin,Lc, sebagai berikut:

  1. Menyelamatkan manusia dari azab.
  2. Bisa menurunkan hujan.
  3. Memberikan kenikmatan, kelimpahan rezeki dan barakah.
  4. Menghindarkan dari paceklik, kefakiran, tanaman yang kurang bagus, dan kemandulan.
  5. Kenikmatan yang terus ditambah.
  6. Allah berikan jalan keluar dari masalah hidupnya.
  7. Mendatangkan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka.

Bersyukur

Dalam kehidupan kita sehari-hari, ada dua hal berbeda yang silih berganti yaitu kesenangan dan kesusahan. Menurut beberapa orang, kalau hidup itu indah karena adanya perbedaan tersebut.

Coba kita bayangkan andai saja seseorang selalu merasakan kesenangan terus atau sebaliknya selalu merasakan kesusahan terus, tentu bukan sesuatu yang baik kan?

Ketika kita merasakan kesenangan, maka kita diharapkan untuk selalu ingat dimana kita dulu pernah merasakan susah.

Sebaliknya, ketika kita merasakan kesusahan maka ingatlah bahwa suatu saat akan ada kesenangan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS Alam Nasyrah : 5-6)

Maka ketika kita dalam masa-masa sulit, selalu ingatlah kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (QS Al Baqarah : 152)

Nikmat-nikmat yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada manusia merupakan pemberian yang terus menerus dan bermacam-macam bentuknya, baik lahir maupun batin.

Namun, manusia saja yang kurang pandai dalam memelihara nikmat, sehingga ia merasa seakan-akan belum pernah diberikan sesuatu apapun oleh Allah SWT.

Mengapa orang terkadang merasa tidak mendapatkan sesuatu apapun dari Allah? Jawabannya adalah karena dia tidak pernah bersyukur atas apa-apa yang ada padanya.

Pengertian Bersyukur

Bersyukur adalah suatu perbuatan yang bertujuan untuk berterima kasih atas segala limpahan nikmat yang telah Allah SWT berikan.

Maka selalu bersyukur jika kita diberi suatu nikmat Allah SWT, tidak memandang nikmat itu banyak atau sedikit. Karena orang yang selalu bersyukur niscaya Allah SWT akan menambah kenikmatan tersebut.

Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Ibrahim : 7 yang artinya: “Barang siapa yang bersyukur atas nikmatku kata Allah, niscaya aku akan menambah nikmat itu. Akan tetapi barang siapa yang kufur atas nikmat Ku kata Allah, maka azab ku sangatlah pedih.”

Hakikat Bersyukur

Rasa syukur yang hakiki di bangun di atas lima pondasi utama dan barang siapa yang dapat merealisasikannya, maka dia adalah seseorang yang bersyukur dengan benar. Lima pondasi tersebut adalah:

  • Merendahnya orang yang bersyukur di hadapan yang dia syukuri (Allah SWT)
  • Kecintaan terhadap Sang Pemberi nikmat (Allah SWT)
  • Mengakui seluruh kenikmatan yang Dia berikan
  • Senantiasa memuji-Nya atas segala nikmat tersebut
  • Tidak menggunakan nikmat tersebut untuk sesuatu yang dibenci oleh Allah SWT

Dengan demikian syukur merupakan bentuk pengakuan atas nikmat Allah dengan penuh sikap kerendahan serta menyandarkan nikmat tersebut kepada-Nya, memuji Nya dan menyebut-nyebut nikmat itu, kemudian hati senantiasa mencintai Nya, anggota badan taat kepada-Nya serta lisan tak henti-henti menyebut nama-Nya.

Itulah 4 Hal Yang Membuat Kita Selalu Dikejar Rezeki. Semoga bermanfaat

Sumber : Dari berbagai Sumber di Internet

Category: IslamTags:
author
No Response

Leave a reply "4 Hal Yang Membuat Kita Selalu Dikejar Rezeki"